Senin, 25 November 2013

FEATURE

GONG SI BOLONG


Di jaman modern seperti sekarang ini, jarang sekali kita temukan suatu pagelaran kesenian tradisional di sekitar kita. Kuatnya pengaruh budaya Barat yang kini terus menghantam moral anak-anak bangsa, memberikan dampak yang cenderung lebih ke arah negatifnya saja. Lambat laun kesenian tradisional mulai luntur dan terlupakan.
Kesenian tradisional sudah selayaknya di kembangkan dan di lestarikan, agar kesenian ini bisa tetap ada dan bisa bertahan ditengah gempuran  kesenian-kesenian  modern yang semakin banyak ragamnya.
Salah satu kesenian tradisional yang ada di Kota Depok adalah kesenian Gong. Alat musik tradisional yang digunakan disini beragam, seperti  Gong, Gendang, Bende, Rebab, Terompet, Keromong, serta Saron. Ini merupakan kesenian asli khas Depok.
            Kesenian Gong ini biasa dipakai untuk mengiringi pementasan wayang kulit, dan biasanya terdapat tari-tarian nayub dibagian pertengahan musik. Kesenian ini dulu nya pernah berjaya dan populer di kalangan masyarakat sekitar tahun 1970.
Gong pada umumnya berbentuk lingkaran, dengan tonjolan dibagian depannya. Gong terbuat dari logam berwarna kuningan, yang kemudian dipanaskan lalu dimasukkan kedalam cetakan berbentuk lingkaran. Gong yang telah ditempa belum bisa ditentukan nadanya, baru setelah dibilas dan dibersihkan nada gong terbentuk.
 Ukuran gong bermacam-macam, semakin besar ukuran sebuah gong maka kualitas suaranya akan semakin lebih baik dan biaya yang dikeluarkan untuk membuatnya akan membuat pengrajin gong merogoh kocek lebih dalam.
Alat musik Gong lazim di gunakan dalam prosesi adat istiadat di Indonesia terutama di pulau Jawa. Dan biasanya dimainkan bersama gamelan, gendang, bonang, dan alat musik tradisional lainnya.
Dalam sebuah acara-acara peresmian ataupun pelepasan tak lupa sebuah gong menampilkan eksistensinya. Tidak untuk ditampilkan secara musical namun hanya untuk formalitas peresmian atau pelepasan. Umumnya gong dipukul tiga kali oleh seorang yang memiliki jabatan tinggi.
Gong tidak hanya di mainkan saat acara-acara musikal ataupun acara-acara peresmian, namun gong juga membantu para pedagang. Namun yang membedakan disini, ukuran gong yang dipakai untuk berdagang cenderung lebih kecil.
Salah satunya pedagang es keliling yang biasa kita sebut es kenong atau es tong-tong. “saya memakai media gong karena suara yang dikeluarkan nyaring, jadi pelanggan tau kalo ada es kenong yang lewat”, ujar Masno (30) pedagang es keliling. “dan dari situlah lahir nama es kenong, karna saat dipukul gongnya bunyi nong, nong, nong, nong”. Tambah Masno.
Terbukti bahwa gong dapat masuk ke berbagai lapisan masyarakat mulai dari masyarakat bawah, menengah, dan atas. Semuanya memakai gong dalam keperluan yang berbeda-beda.
Lain halnya dengan gong yang satu ini, jika pada umumnya gong berbentuk bulat dan mempunyai tonjolan dibagian tengahnya. Namun gong yang satu ini tidak memiliki tonjolan tetapi mempunyai lubang ditengahnya. Gong ini diberi nama Gong Si Bolong, sesuai dengan bentuknya.
Gong yang memiliki suara khas yaitu bass, biasa dipukul oleh pemainnya tepat ditengah-tengah benjolan agar suaranya keluar. Namun tidak dengan Gong Si Bolong, karena ia tidak memiliki benjolan maka pemainnya memukul dipinggir benjolan yang berlubang tersebut.
Gong Si Bolong terbuat dari tembaga. Namun siapa pemilik asli dan pembuatnya kabarnya misterius atau yang lebih tepat gaib. Kabar tersebut berasal turun temurun dari penemu pertama Gong Si Bolong hingga pewaris yang sekarang.
Adalah Buang Jayadi, lelaki kelahiran tahun 1946 yang merelakan sisa umurnya untuk terus merawat, menjaga dan melestarikan sekaligus menjadikannya pewaris Gong Si Bolong.
Pak Buang, itulah sapaan akrab orang-orang kepada lelaki asli Depok itu. Ia telah mengikuti kesenian Gong Si Bolong sejak duduk di SR (Sekolah Rakyat) sekarang SD (Sekolah Dasar). Memikul dari tempat satu ke tempat yang lain rela ia lakukan demi memuaskan rasa cintanya terhadap alat musik tradisional.
Pada saat itu kesenian Gong Si Bolong terkenal di sekitar wilayah Depok, dan keberadaannya membuat warga di sekitar Depok memanggilnya dalam rangka memeriahkan sebuah acara hajatan.
Dari situ Pak Buang mulai ditugaskan untuk memikul Gong Si Bolong dari tempat acara satu ketempat acara lainnya. Beranjak dewasa Pak Buang ditugaskan untuk memainkan Gong Si Bolong. Mulai bayaran yang hanya ucapan terimakasih hingga sebungkus nasi pernah ia rasakan bersama pemain-pemain lainnya di kesenian Gong Si Bolong.
Namun tak pelak semua itu ia lakukan dengan bangga karena dapat membantu banyak orang dan memperkenalkan kesenian Gong Si Bolong kepada masyarakat sekitar Depok. “kalo bukan kita mau siapa lagi yang ngebantu, acaranya aja sederhana banget”. Ujar Pak Buang
Gong Si Bolong sangat kental dengan magis. Konon kabarnya Gong Si Bolong bukan di buat oleh tangan manusia. Gong tersebut ditemukan pada tahun 1750. Di perbatasan antara Ciganjur dan Depok. Pak Buang ini adalah generasi ke-9 dari pewaris Gong Si Bolong.
Usia Gong Si Bolong Saat ini telah menginjak sekitar 2 setengah abad. Namun berkat kerja keras Pak Buang yang selalu merawat Gong Si Bolong secara teratur, membuat kondisi Gong Si Bolong masih bagus seperti masih berumur 30 tahun.
Di tangan Pak Buang, Gong Si Bolong dirawat dengan sangat baik. Seperti memandikan tiga kali dalam satu tahun dan memakaikan seragam. Semua itu dijalankan Pak Buang dengan segala ketulusan hatinya.
Pak Buang menuturkan awal sejarah diketemukannya Gong Si Bolong. “Awalnya pada setiap malam di daerah Ciganjur Jakarta Selatan sering terdengar suara-suara gamelan seperti orang sedang hajatan. Lalu salah seorang “orang tertua” yang bernama Pak Jimin menelusuri sumber bunyi tersebut. Dan menemukan sebuah alat musik tradisional yang lengkap di sebuah Curug, pinggir Kali Krukut. Namun yang membuatnya heran, ada suaranya tapi ngga ada orang yang memainkannya. Karena Pak Jimin datang seorang diri, maka ia hanya mampu membawa tiga alat musik saja, diantaranya Gong, Bende dan Gendang.”
Dari ketiga alat musik yang dibawa Pak Jimin, hanya satu yang berbeda dari alat musik pada umumnya yaitu gong yang bolong pada bagian tengahnya. Oleh Pak Jimin ketiga alat musik tersebut dirawat, hingga ia meninggal dunia. Setelah berganti-ganti pewaris akhirnya ketiga alat musik tersebut sekarang di wariskan kepada Pak Buang.
Keunikan lain dari gong ini adalah suaranya yang sangat nyaring. Suara yang dikeluarkan Gong Si Bolong dapat terdengar kerumah Pak Buang, meski ia beserta rombongan sedang pentas di tempat yang sangat jauh. Namun semenjak Gong tersebut terjatuh dari tempatnya, maka sekarang suaranya sudah tidak senyaring dan sejauh dahulu kala.
Pak Buang menuturkan “lewat mimpi saya pernah di datangi seorang laki-laki dan disuruh untuk tidak membawa Gong Si Bolong kemanapun ada pementasan, karena usianya yang sudah tua dan sudah tidak kuat untuk bersuara kembali”.
Sejak kejadian itu Pak Buang memensiunkan peran Gong Si Bolong kepada gong yang lain. Kini Gong Si Bolong disimpan dan dijaga oleh Pak Buang. Dan menggunakan gong lain saat ada pementasan.
Selain Gong Si Bolong, pak buang juga menyimpan Bende dan Gendang yang ditemukan bersamaan dengan Gong Si Bolong di dalam ruangan khusus, yang penuh sesak dengan sesajen.
 Tidak sembarang orang dapat melihat Gong Si Bolong, kita harus melewati ritual khusus yang dipimpin oleh Pak Buang sebelum dapat melihat bagaimana wujud asli Gong Si Bolong.
Gong seperti ini hanya ada satu – satunya di Indonesia. Bukan dari keunikan fisiknya, namun dari sisi sejarah dan segala kontroversi yang telah dibuatnya, menjadikan Gong Si Bolong memiliki keistimewaan tersendiri dari alat-alat musik lainnya di Indonesia.
Pak Buang mendirikan sebuah sanggar kesenian musik tradisional yang di beri nama “Pusaka Jaya”. Filosofi dari nama tersebut adalah “kita menjalankan pusaka yang tujuannya agar tetap jaya”. Tutur Pak Buang.
Dari sanggar inilah Pak Buang mampu menghidupi keluarganya. Maka ia sangat bersyukur atas apa yang sudah dititipkan oleh Allah lewat kecintaannya kepada alat musik tradisional.
Di tangan kakek dari kelima cucunya ini, nama Gong Si Bolong melambung tinggi. Berbagai piagam penghargaan pernah ia raih, diantaranya pernah mendapat juara satu pagelaran kesenian daerah se-Jawa Barat pada tanggal 7 Juni 2008.
Penghargaan dari dinas pemuda, olahraga, pariwisata, seni dan budaya kota Depok pun pernah ia dapatkan pada tahun 2009. Tidak berhenti sampai disitu Pak Buang pernah menerima penghargaan dari Wakil Guberbur Jawa Barat Dede Yusuf pada tanggal 13 Maret 2009.
 Hingga penghargaan yang baru-baru ini ia dapatkan pada tanggal 24 Juni 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia yang diberikan oleh Jero Wacik atas pelestarian dan pengembangan warisan budaya.
Selain penghargaan berbentuk piagam dan  piala yang di berikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Pak  Buang juga di berikan amplop yang berisi uang sebesar tujuh juta lima ratus ribu rupiah, untuk biaya perawatan Gong Si Bolong.
Dari uang tersebut, sebagaian digunakan untuk perawatan Gong Si Bolong dan sebagian lagi dipergunakan untuk membeli rak yang berfungsi sebagai tempat meletakkan piagam-piagam yang telah didapatkan.
Kemudian sisa uang tersebut diberikan kepada para pemain sanggar kesenian Pusaka Jaya. Meski uang yang didapatkan oleh setiap pemain tidak sesuai dengan kerja keras yang mereka lakukan, namun mereka tetap bersyukur masih diberikan rezeki oleh Yang Kuasa.
Berkat penghargaan-penghargaan tersebut Walikota Depok Badrul Kamal pada saat itu mebangunan sebuah tugu yang terletak di jalan Tanah Baru. Pada puncak tugu tersebut terdapat replika dari Gong Si Bolong yang di buat sendiri oleh Pak Buang.
Pembuatan tugu replika Gong Si Bolong tersebut bertujuan untuk mengingatkan kepada para pengendara yang lewat, bahwa Gong Si Bolong merupakan salah satu ciri khas atau icon Kota Depok.
Namun Pak Buang sangat menyayangkan kebijakan Walikota Depok saat ini, yang seakan-akan kurang peduli dengan keberadaan Gong Si Bolong. “Sebab sampai saat ini dari pihak Walikota Depok sendiri belum ada yang mendatangi rumah saya”, tutur Pak Buang.
“saya udah ngebuktiin kita bisa berangkat keluar kota dengan uang pribadi dan disana kita mengharumkan nama Kota Depok” tambahnya. Pak Buang berharap agar Walikota Depok lebih memperhatikan kesenian Gong Si Bolong.
Pak Buang khawatir kepada pewaris yang kelak akan menggantikannya. Sebab anggota sanggar kesenian Gong Si Bolong ini rata-rata berumur sekitar 40 tahun. “saya khawatir pewaris selanjutnya akan terputus dan tidak peduli lagi kepada keberadaan Gong Si Bolong” ujarnya.
Hingga sampai sekarang, keberadaan Gong Si Bolong masih tetap ada meskipun sudah tidak se eksis dulu. Namun Gong Si Bolong masih dipergunakan untuk pementasan dalam setiap acara-acara tertentu.


Foto: Fajar Yugaswara
Teks: Fajar Yugaswara & Rizki Solehudin

Author Box

Hi, We are templateify, we create best and free blogger templates for you all i hope you will like this lightly template we have put lot of effort on this template, Cheers, Follow us on: Facebook & Twitter

  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar:

Posting Komentar

Netra