GONG
SI BOLONG
Di
jaman modern seperti sekarang ini, jarang sekali kita temukan suatu pagelaran
kesenian tradisional di sekitar kita. Kuatnya pengaruh budaya Barat yang kini
terus menghantam moral anak-anak bangsa, memberikan dampak yang cenderung lebih
ke arah negatifnya saja. Lambat laun kesenian tradisional mulai luntur dan
terlupakan.
Kesenian
tradisional sudah selayaknya di kembangkan dan di lestarikan, agar kesenian ini
bisa tetap ada dan bisa bertahan ditengah gempuran kesenian-kesenian modern yang semakin banyak ragamnya.
Salah
satu kesenian tradisional yang ada di Kota Depok adalah kesenian Gong. Alat
musik tradisional yang digunakan disini beragam, seperti Gong, Gendang, Bende, Rebab, Terompet,
Keromong, serta Saron. Ini merupakan kesenian asli khas Depok.
Kesenian Gong ini biasa dipakai
untuk mengiringi pementasan wayang kulit, dan biasanya terdapat tari-tarian
nayub dibagian pertengahan musik. Kesenian ini dulu nya pernah berjaya dan
populer di kalangan masyarakat sekitar tahun 1970.
Gong pada
umumnya berbentuk lingkaran, dengan tonjolan dibagian depannya. Gong terbuat
dari logam berwarna kuningan, yang kemudian dipanaskan lalu dimasukkan kedalam
cetakan berbentuk lingkaran. Gong yang telah ditempa belum bisa ditentukan
nadanya, baru setelah dibilas dan dibersihkan nada gong terbentuk.
Ukuran gong bermacam-macam, semakin besar
ukuran sebuah gong maka kualitas suaranya akan semakin lebih baik dan biaya yang
dikeluarkan untuk membuatnya akan membuat pengrajin gong merogoh kocek lebih
dalam.
Alat musik Gong
lazim di gunakan dalam prosesi adat istiadat di Indonesia terutama di pulau
Jawa. Dan biasanya dimainkan bersama gamelan, gendang, bonang, dan alat musik
tradisional lainnya.
Dalam sebuah
acara-acara peresmian ataupun pelepasan tak lupa sebuah gong menampilkan eksistensinya. Tidak untuk ditampilkan
secara musical namun hanya untuk
formalitas peresmian atau pelepasan. Umumnya gong dipukul tiga kali oleh
seorang yang memiliki jabatan tinggi.
Gong tidak hanya
di mainkan saat acara-acara musikal ataupun acara-acara peresmian, namun gong
juga membantu para pedagang. Namun yang membedakan disini, ukuran gong yang
dipakai untuk berdagang cenderung lebih kecil.
Salah satunya
pedagang es keliling yang biasa kita sebut es
kenong atau es tong-tong. “saya
memakai media gong karena suara yang dikeluarkan nyaring, jadi pelanggan tau kalo
ada es kenong yang lewat”, ujar
Masno (30) pedagang es keliling. “dan dari situlah
lahir nama es kenong, karna saat
dipukul gongnya bunyi nong, nong, nong,
nong”. Tambah Masno.
Terbukti bahwa
gong dapat masuk ke berbagai lapisan masyarakat mulai dari masyarakat bawah,
menengah, dan atas. Semuanya memakai gong dalam keperluan yang berbeda-beda.
Lain
halnya dengan gong yang satu ini, jika pada umumnya gong berbentuk bulat dan
mempunyai tonjolan dibagian tengahnya. Namun gong yang satu ini tidak memiliki
tonjolan tetapi mempunyai lubang ditengahnya. Gong ini diberi nama Gong Si Bolong,
sesuai dengan bentuknya.
Gong yang
memiliki suara khas yaitu bass, biasa dipukul oleh pemainnya tepat ditengah-tengah
benjolan agar suaranya keluar. Namun tidak dengan Gong Si Bolong, karena ia
tidak memiliki benjolan maka pemainnya memukul dipinggir benjolan yang berlubang
tersebut.
Gong Si Bolong
terbuat dari tembaga. Namun siapa pemilik asli dan pembuatnya kabarnya
misterius atau yang lebih tepat gaib.
Kabar tersebut berasal turun temurun dari penemu pertama Gong Si Bolong hingga
pewaris yang sekarang.
Adalah Buang Jayadi,
lelaki kelahiran tahun 1946 yang merelakan sisa umurnya untuk terus merawat,
menjaga dan melestarikan sekaligus menjadikannya pewaris Gong Si Bolong.
Pak Buang,
itulah sapaan akrab orang-orang kepada lelaki asli Depok itu. Ia telah
mengikuti kesenian Gong Si Bolong sejak duduk di SR (Sekolah Rakyat) sekarang
SD (Sekolah Dasar). Memikul dari tempat satu ke tempat yang lain rela ia lakukan
demi memuaskan rasa cintanya terhadap alat musik tradisional.
Pada saat itu kesenian
Gong Si Bolong terkenal di sekitar wilayah Depok, dan keberadaannya membuat
warga di sekitar Depok memanggilnya dalam rangka memeriahkan sebuah acara hajatan.
Dari situ Pak
Buang mulai ditugaskan untuk memikul Gong Si Bolong dari tempat acara satu
ketempat acara lainnya. Beranjak dewasa Pak Buang ditugaskan untuk memainkan
Gong Si Bolong. Mulai bayaran yang hanya ucapan terimakasih hingga sebungkus
nasi pernah ia rasakan bersama pemain-pemain lainnya di kesenian Gong Si
Bolong.
Namun tak pelak semua
itu ia lakukan dengan bangga karena dapat membantu banyak orang dan
memperkenalkan kesenian Gong Si Bolong kepada masyarakat sekitar Depok. “kalo
bukan kita mau siapa lagi yang ngebantu, acaranya aja sederhana banget”. Ujar Pak
Buang
Gong Si Bolong
sangat kental dengan magis. Konon kabarnya Gong Si Bolong bukan di buat oleh
tangan manusia. Gong tersebut ditemukan pada tahun 1750. Di perbatasan antara
Ciganjur dan Depok. Pak Buang ini adalah generasi ke-9 dari pewaris Gong Si
Bolong.
Usia Gong Si
Bolong Saat ini telah menginjak sekitar 2 setengah abad. Namun berkat kerja
keras Pak Buang yang selalu merawat Gong Si Bolong secara teratur, membuat
kondisi Gong Si Bolong masih bagus seperti masih berumur 30 tahun.
Di tangan Pak
Buang, Gong Si Bolong dirawat dengan sangat baik. Seperti memandikan tiga kali
dalam satu tahun dan memakaikan seragam. Semua itu dijalankan Pak Buang dengan
segala ketulusan hatinya.
Pak Buang menuturkan
awal sejarah diketemukannya Gong Si Bolong. “Awalnya pada setiap malam di
daerah Ciganjur Jakarta Selatan sering terdengar suara-suara gamelan seperti
orang sedang hajatan. Lalu salah
seorang “orang tertua” yang bernama Pak Jimin menelusuri sumber bunyi tersebut.
Dan menemukan sebuah alat musik tradisional yang lengkap di sebuah Curug,
pinggir Kali Krukut. Namun yang membuatnya heran, ada suaranya tapi ngga ada orang yang memainkannya. Karena
Pak Jimin datang seorang diri, maka ia hanya mampu membawa tiga alat musik
saja, diantaranya Gong, Bende dan Gendang.”
Dari ketiga alat
musik yang dibawa Pak Jimin, hanya satu yang berbeda dari alat musik pada
umumnya yaitu gong yang bolong pada bagian tengahnya. Oleh Pak Jimin ketiga
alat musik tersebut dirawat, hingga ia meninggal dunia. Setelah berganti-ganti
pewaris akhirnya ketiga alat musik tersebut sekarang di wariskan kepada Pak
Buang.
Keunikan lain dari
gong ini adalah suaranya yang sangat nyaring. Suara yang dikeluarkan Gong Si Bolong
dapat terdengar kerumah Pak Buang, meski ia beserta rombongan sedang pentas di
tempat yang sangat jauh. Namun semenjak Gong tersebut terjatuh dari tempatnya,
maka sekarang suaranya sudah tidak senyaring dan sejauh dahulu kala.
Pak Buang
menuturkan “lewat mimpi saya pernah di datangi seorang laki-laki dan disuruh
untuk tidak membawa Gong Si Bolong kemanapun ada pementasan, karena usianya
yang sudah tua dan sudah tidak kuat untuk bersuara kembali”.
Sejak kejadian
itu Pak Buang memensiunkan peran Gong Si Bolong kepada gong yang lain. Kini
Gong Si Bolong disimpan dan dijaga oleh Pak Buang. Dan menggunakan gong lain
saat ada pementasan.
Selain Gong Si
Bolong, pak buang juga menyimpan Bende dan Gendang yang ditemukan bersamaan
dengan Gong Si Bolong di dalam ruangan khusus, yang penuh sesak dengan sesajen.
Tidak sembarang orang dapat melihat Gong Si
Bolong, kita harus melewati ritual khusus yang dipimpin oleh Pak Buang sebelum
dapat melihat bagaimana wujud asli Gong Si Bolong.
Gong seperti ini
hanya ada satu – satunya di Indonesia. Bukan dari keunikan fisiknya, namun dari
sisi sejarah dan segala kontroversi yang telah dibuatnya, menjadikan Gong Si
Bolong memiliki keistimewaan tersendiri dari alat-alat musik lainnya di
Indonesia.
Pak Buang
mendirikan sebuah sanggar kesenian musik tradisional yang di beri nama “Pusaka
Jaya”. Filosofi dari nama tersebut adalah “kita menjalankan pusaka yang
tujuannya agar tetap jaya”. Tutur Pak Buang.
Dari sanggar
inilah Pak Buang mampu menghidupi keluarganya. Maka ia sangat bersyukur atas
apa yang sudah dititipkan oleh Allah lewat kecintaannya kepada alat musik
tradisional.
Di tangan kakek
dari kelima cucunya ini, nama Gong Si Bolong melambung tinggi. Berbagai piagam
penghargaan pernah ia raih, diantaranya pernah mendapat juara satu pagelaran
kesenian daerah se-Jawa Barat pada tanggal 7 Juni 2008.
Penghargaan dari
dinas pemuda, olahraga, pariwisata, seni dan budaya kota Depok pun pernah ia
dapatkan pada tahun 2009. Tidak berhenti sampai disitu Pak Buang pernah
menerima penghargaan dari Wakil Guberbur Jawa Barat Dede Yusuf pada tanggal 13
Maret 2009.
Hingga penghargaan yang baru-baru ini ia
dapatkan pada tanggal 24 Juni 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
Republik Indonesia yang diberikan oleh Jero Wacik atas pelestarian dan
pengembangan warisan budaya.
Selain
penghargaan berbentuk piagam dan piala
yang di berikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Pak Buang juga di berikan amplop yang berisi uang
sebesar tujuh juta lima ratus ribu rupiah, untuk biaya perawatan Gong Si
Bolong.
Dari uang
tersebut, sebagaian digunakan untuk perawatan Gong Si Bolong dan sebagian lagi
dipergunakan untuk membeli rak yang berfungsi sebagai tempat meletakkan
piagam-piagam yang telah didapatkan.
Kemudian sisa
uang tersebut diberikan kepada para pemain sanggar kesenian Pusaka Jaya. Meski
uang yang didapatkan oleh setiap pemain tidak sesuai dengan kerja keras yang mereka
lakukan, namun mereka tetap bersyukur masih diberikan rezeki oleh Yang Kuasa.
Berkat
penghargaan-penghargaan tersebut Walikota Depok Badrul Kamal pada saat itu mebangunan
sebuah tugu yang terletak di jalan Tanah Baru. Pada puncak tugu tersebut terdapat
replika dari Gong Si Bolong yang di buat sendiri oleh Pak Buang.
Pembuatan tugu
replika Gong Si Bolong tersebut bertujuan untuk mengingatkan kepada para pengendara
yang lewat, bahwa Gong Si Bolong merupakan salah satu ciri khas atau icon Kota Depok.
Namun Pak Buang
sangat menyayangkan kebijakan Walikota Depok saat ini, yang seakan-akan kurang
peduli dengan keberadaan Gong Si Bolong. “Sebab sampai saat ini dari pihak
Walikota Depok sendiri belum ada yang mendatangi rumah saya”, tutur Pak Buang.
“saya udah
ngebuktiin kita bisa berangkat keluar kota dengan uang pribadi dan disana kita
mengharumkan nama Kota Depok” tambahnya. Pak Buang berharap agar Walikota Depok
lebih memperhatikan kesenian Gong Si Bolong.
Pak Buang
khawatir kepada pewaris yang kelak akan menggantikannya. Sebab anggota sanggar
kesenian Gong Si Bolong ini rata-rata berumur sekitar 40 tahun. “saya khawatir
pewaris selanjutnya akan terputus dan tidak peduli lagi kepada keberadaan Gong
Si Bolong” ujarnya.
Hingga sampai
sekarang, keberadaan Gong Si Bolong masih tetap ada meskipun sudah tidak se eksis dulu. Namun Gong Si Bolong masih
dipergunakan untuk pementasan dalam setiap acara-acara tertentu.
Foto: Fajar Yugaswara
Teks: Fajar Yugaswara & Rizki Solehudin








0 komentar:
Posting Komentar